Seroja Madura: Bukti Cinta Tanpa Noda

Aku percaya ini semua terjadi tidak secara kebetulan. Tuhan menerbangkanku hingga ke ujung barat Indonesia pasti menitipkan sebuah misi berharga. Sebuah misi yang tidak semua orang bisa memikulnya, sebuah misi yang akan terkenang sebagai catatan perjalanan yang membanggakan.

Menjadi satu dari sekian ribu mahasiswa yang beradu mimpi dan memiliki impian yang sama, adalah hal yang sangat luar biasa, Tuhan lebih memilihku untuk terbang ke tanah Banda.

Di tanah rimba warisan leluhur
Di deburan tanah berkapur
Di bumi ini aku terlahir
Dari rahim-rahim penuh gelora
Lahir batin kumendamba seroja Madura
Tersemat harap penuh bangga
Dengan getir zikir alif, lam, mim
Di jenggala ini aku jua berprestasi
Karena dalam nadi ini
Mengalir telaga Madura tanpa jeri

Aku pun tak menyangka bahwa kecilnya Pulau Madura dapat dikenal orang-orang di tanah Banda. Lewat program Pertukaran Mahasiswa Merdeka, Madura lebih dikenal, bukan hanya tentang carok yang menggemparkan, atau kerabhan sape sebagai penyiksaan berkedok kebudayaan.

Aku membawa nama baik Madura ke tanah Banda, agar orang-orang tahu bahwa Madura tidak sehina itu. Madura yang mereka kenal bukanlah pakem murni yang sesungguhnya. Madura yang mereka kenal modern ini adalah penyampaian dari beberapa mulut, penyampaian gagasan dari beberapa hati yang barangkali memang pada dasarnya membenci.

Maka, duduklah. Biar kuceritakan apa yang membuat Madura begitu istimewa.

Pulau Garam yang “mengutuk” hujan

Jika Bali terkenal dengan julukan “Pulau Dewata”-nya, atau Sumatra yang terkenal dengan julukan “Pulau Harapan”-nya, maka Madura kukenalkan lewat penghasil garamnya. Pulau Garam yang menjadi sebutan adalah salah satu hal yang akan aku banggakan.

Hampir seluruh daratan Madura –terlebih daerah pesisir, tertutup serpihan kristal. Di musim kemarau, mereka akan menggarap tambaknya dengan harapan dapat menyuplai dan menyambung hidup.

Pulau Garam yang kuceritakan ini akan sedikit “mengutuk” datangnya musim penghujan. Selain musim penghujan dianggap sebagai hal yang menjengkelkan, musim penghujan juga dianggap sebagai penghambat: mobilitas sosial, aktivitas sosial, rute penerbangan, tidak terkecuali durasi penggarapan garam.

Di musim kemarau, para petani garam hanya perlu membutuhkan 10-15 hari sampai waktu panen. Tapi, berbeda cerita jika musim penghujan datang. Hasil garam yang melimpah ini paling tidak menyumbang pendapatan kami untuk tetap bertahan hidup. Dari alam kami terkembang, untuk alam pula kami menyumbang.

Meluruskan Kembali Carok yang bengkok

Lalu kedua, untuk sebuah persoalan yang sering kali diperdebatkan, kemudian diperkeruh lagi dengan opini-opini tak berdasar, asal menyebutkan, asal menyuarakan tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.

Teruntuk mereka yang menggiring opini kurang menyenangkan, mari sini, biar kujelaskan, tentang carok yang sering disalahartikan. Sepanjang tulisan ini, aku harap juga hadirkan ruang berpikir yang bijak, sebab aku yakin, para Pembaca semua adalah penikmat yang budiman.

Mungkin bagi sebagian orang, carok telah mendapat label yang buruk: kejam, anarki, mengerikan, dan tidak berperikemanusiaan. Tapi carok yang berkembang sekarang sudah meninggalkan pakem yang sesungguhnya.

Carok yang dikenal sekarang sudah banyak mengalami degradasi kultural, banyak yang sengaja dibelokkan, dilencengkan, dan dihilangkan.

Jika kita mengaca pada budaya murni, carok harus tetap berpatokan pada orisinalitas. Pada dasarnya, carok adalah cara terakhir yang digunakan apabila langkah pertama dan kedua tak kunjung menemukan titik temu di antara dua kubu yang sedang berseteru.

Carok adalah simbol kejantanan pria Madura dalam melindungi istri, dan keluarganya. Sejauh ini, carok hanya boleh dilakukan apabila dua hal tersebut di atas diusik ketenangannya. Menurut keyakinan laki-laki Madura, jika dua hal tersebut diusik, maka tidak ada jalan lain selain bertarung secara jantan.

Bagi mereka yang berseteru, di step awal akan melakukan negosiasi. Antara pihak yang berseteru akan menempuh jalur kekeluargaan, membicarakannya secara baik-baik. Namun, jika tidak menemui titik tengah, maka step kedua akan dilakukanlah mediasi. Dengan menghadirkan orang ketiga sebagai penengah dan perantara, diharapkan dapat menemukan titik terang dan jalan damai.

Namun, jika belum juga menemukan jalan tengah, dalam artian di sini kedua kubu sama-sama ego, tidak mau mengalah, dan orang ketiga tak sanggup menengahi, maka tidak ada yang berhak menghalangi jalannya carok.

Orang ketiga juga berkewajiban menjelaskan prosedur (kesepakatan) sebelum carok: (1) Siapa pun kubu yang tumbang, kalah, dan berakhir meregang nyawa, pemenang berkewajiban menafkahi istri, anak, dan keluarga yang ditinggalkan secara finansial sepanjang hidupnya. (2) Kedua kubu diperbolehkan memakai ajian ilmu kebal sebagai cara menumbangkan kubu lawan dan perlindungan diri.

Namun pada kenyataannya, carok yang berkembang sekarang tidaklah demikian. Begitu salah satu kubu tumbang, maka tersulutlah api dendam, tanpa menghiraukan kesepakatan awal.

Kesalahan prosedur dan lunturnya pakem murni mengakibatkan konflik berkepanjangan. Bukan berarti aku mendukung pembunuhan berkedok kebudayaan ini, tapi jika “kebiasaan” ini sering disalahartikan, maka ke mana peranku sebagai hasil produk Madura?

Paling tidak, dengan adanya tulisan ini, semua orang tahu bahwa carok bukan hanya perkara menebas kepala atau memusnahkan nyawa, juga bukan caraku untuk meng-endorse dan membela, tapi agar semua mata tahu bahwa carok tidak seburuk yang diberitakan awak media. Jika kau paham sejarah, maka kau tidak akan salah memilih arah.


Pojok Kampus: Punya keresahan yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan? Pengalaman, cerita unik, hal seru, atau informasi seputar kampus yang ingin disampaikan kepada publik? Atau ingin menyampaikan ide, opini dan kritik seputar dunia kampus? Yuk menjadi kontributor dan kirim naskah tulisanmu ke laman Pojok Kampus. Sebelum itu, sebaiknya kamu ikuti dengan seksama, teliti, dan hati-hati Panduan Kirim Tulisan dan Poin Kontributor di sekampus.com

Choirul Anam
Choirul Anam
Choirul Anam, peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka 4 Inbound Universitas Muhammadiyah Aceh yang berasal dari Universitas Madura, Jawa Timur. Choirul Anam adalah penulis buku: Menuju Terang (2020), Andai Dulu Kita Tak Bertemu (2021), Road to Glory (2021), Pelayan Raqib Atidmu (horor), Critical IPA-IPS (novel), dan masih banyak lagi. Selain karya cetak, karya-karya Choirul Anam juga terpublikasi di media digital. Hingga saat ini, tercatat sudah 90 judul buku yang telah dilahirkan.
RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Ramai Dibaca