Petualangan Modul Nusantara: Menjelajah Jakarta dengan Gamifikasi

Hari ini cuaca Bogor bersahabat. Terbilang masih cukup pagi tapi sang surya sudah sangat terik. “What a beautiful day to Jakarta” pikirku. Sabtu, 16 Desember 2023 adalah Modul Nusantara Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang ke 13 dengan tema Kebhinekaan menggunakan metode Gamifikasi.

Hari ini kami diberi challenge untuk bisa sampai ke Jakarta dengan clue-clue yang diberikan setelah memecahkan clue pertama dan seterusnya. Namun kami tidak pergi secara bersama dan bersamaan. Malam tadi liaison officer (LO) kami sudah membagi menjadi 7 kelompok. Aku sendiri sekelompok dengan Adik Baidha dan Naomi. 

Sebelumnya kami tetap berkumpul di Lapangan Universitas Djuanda tepat didepan Indomaret. LO kami memberi uang jalan kepada masing-masing kelompok untuk menunjang perjalanan kami.

Jarak keberangkatan antar kelompok sekitar 10 menit, karena kelompok aku paling akhir jadi kami berangkat sekitar jam 9 WIB. Tantangan perjalanan kali ini adalah menemukan situs pahlawan, bangunan toleransi, ikon ibu kota dan bangunan bersejarah. 

Mula-mula untuk bisa sampai ke stasiun kami perlu naik angkutan umum terlebih dahulu. Ternyata angkot di Makassar maupun di Bogor sama saja. Saat penumpangnya sudah sempit-sempitan si supir masih tinggal dan berteriak “kosong, ayo langsung jalan” tapi hingga beberapa menit kemudian tidak kunjung jalan juga.

Di Makassar angkutan umum disebut dengan nama “pete-pete”. Kini sudah tergantikan dengan grab. Masih ada, namun orang-orang lebih memilih untuk menaiki Grab yang mengantarnya langsung ditempat tujuan.

Siapa sangka hal-hal yang kupikir saat itu sangat membuat risih karena menunggu sambil berpanas-panasan dalam angkot ternyata menjadi hal yang sangat kurindukan saat aku tidak ada lagi di Bogor.  

Jarak dari Universitas Djuanda ke stasiun kurang lebih setengah jam. Kami harus menyambung angkot dua kali. Sebenarnya bisa saja kami berjalan ke halte untuk menaiki bus yang bisa mengantarkan kami langsung ke pemberhentian tepat di Stasiun namun saat itu kami belum mempunyai kartu untuk membayarnya.

Akhirnya tibalah kami di stasiun dan tantangan pertama yaitu menemukan patung yang berdiri sekitar stasiun Bogor. Patung tersebut adalah Pahlawan Kapten Tubagus Muslihat. Menurut Sejarah ditempat berdirinya patung tersebut ia gugur tertembak pada 25 Desember 1945 di usianya 19 tahun. Kapten muslihat saat itu menjadi pemimpin penyerangan terhadap lawan tantara Inggris di Pusat Kota Bogor. 

Kami pun berselfie disana dan mendapatkan tantangan kedua. Clue selanjutnya yaitu  mencari bangunan yang menjadi simbol toleransi antar agama. Pertama kali aku merasakan naik kereta.

Saat kami hendak menaiki kereta waktu menunjukkan hampir pukul 10 jadi peron-peron terbilang cukup padat. Setengah perjalanan kami habiskan dengan berdiri karena sudah tidak ada kursi yang kosong. Aku tetap menikmati perjalanan hingga terdengar pengumuman kami telah tiba di Stasiun Manggarai barulah kami mendapat kursi untuk duduk. 

Kami lalu turun di Stasiun Djuanda. Berjalan sebentar hingga sampai di tujuan selanjutnya yaitu Masjid Istiqlal yang berdampingan langsung dengan Gereja Katedral. Kami berfoto diantara kedua bangunan tersebut.

Jujur saja perasaanku sungguh sangat tenang sekaligus takjub betapa luas dan indah masjid yang satu ini. Oud Batavia merupakan titik akhir kami berkumpul. Aku dan teman kelompokku tiba cukup akhir karena pergi belakangan juga. Saat sampai disana teman-temanku yang lain sudah berkumpul dan beristirahat didepan sebuah bangunan.

Kami makan setelah itu duduk menyaksikan live music dan senja yang mengintip diantara bangunan-bangunan peninggalan Belanda hingga petang. Saat perjalanan pulang dalam peron, semuanya sudah terlihat sangat lelah.

Akupun merasa begitu, tapi tidak sampai tertidur. Aku sibuk mengabadikan momen ini. Menikmati citylight dari jendela dihadapanku membuat mataku berbinar, indah sekali. Tidak kalah indah dengan momen kebersamaan hari ini.


Pojok Kampus: Punya keresahan yang ingin dituangkan dalam bentuk tulisan? Pengalaman, cerita unik, hal seru, atau informasi seputar kampus yang ingin disampaikan kepada publik? Atau ingin menyampaikan ide, opini dan kritik seputar dunia kampus? Yuk menjadi kontributor dan kirim naskah tulisanmu ke laman Pojok Kampus. Sebelum itu, sebaiknya kamu ikuti dengan seksama, teliti, dan hati-hati Panduan Kirim Tulisan dan Poin Kontributor di sekampus.com

Puspita Aulia
Puspita Aulia
Mahasiswa PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar, Alumni PMM 3 di Univesitas Djuanda
RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

Leave a Reply

Ramai Dibaca