Pojok Kampus! Di tengah derasnya arus modernisasi, globalisasi, dan kemajuan teknologi, masyarakat kini dihadapkan pada fenomena meningkatnya individualisme. Individualisme, yang menekankan kemandirian dan kebebasan personal, memang memberi ruang bagi inovasi serta kebebasan berekspresi. Namun, di sisi lain, ia menghadirkan tantangan besar terhadap upaya membangun dan merawat hubungan sosial yang sehat.
Sejumlah penelitian menegaskan bahwa gaya hidup individualis kian menguat di perkotaan. Studi yang dilakukan oleh Risma Neta Lestari dan Yani Achdiani (2024) menemukan bahwa masyarakat dengan kecenderungan individualis cenderung minim berinteraksi dengan tetangga, lebih sibuk dengan urusan pribadi, serta menunjukkan kepedulian sosial yang menurun.
Fenomena ini sejalan dengan temuan lain tentang Generasi Z, di mana derasnya pengaruh budaya global dan teknologi digital membuat nilai-nilai kolektivisme seperti gotong royong mulai tergerus.
Baca juga: Ki Hadjar Dewantara Menangis di Alam Kubur, Pendidikan yang Dulu Dibela, Kini Dijual
Teknologi digital memang menghadirkan kemudahan dalam berkomunikasi, tetapi hubungan yang tercipta seringkali hanya sebatas “interaksi semu.” Banyak anak muda lebih nyaman bertegur sapa lewat layar dibanding tatap muka. Akibatnya, kualitas hubungan sosial yang mendalam semakin jarang terbangun. Ironisnya, meski secara virtual seseorang tampak terhubung dengan banyak orang, rasa kesepian dan keterasingan justru meningkat.
Urbanisasi dan mobilitas ekonomi turut memperkuat fenomena ini. Waktu yang terkuras untuk bekerja, mengejar karier, atau sekadar memenuhi kebutuhan hidup membuat ruang interaksi sosial semakin menyempit.
Kegiatan komunal seperti kerja bakti, arisan, atau forum musyawarah warga perlahan memudar. Nilai kebersamaan yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia kini mulai terpinggirkan.
Menurut Ferdi Fernando Putra, mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi sekaligus penulis aktif, persoalan ini nyata terlihat di kalangan generasi muda. “Banyak mahasiswa yang bersikap apatis. Kampus hanya dianggap sebagai tempat singgah untuk belajar teori, bukan ruang untuk tumbuh bersama. Organisasi, diskusi, atau kegiatan sosial sering dipandang sekadar pelengkap, bukan kebutuhan,” ujarnya.
Dalam pandangan Ferdi, sikap seperti ini berbahaya karena berpotensi melahirkan generasi yang pintar secara akademik, tetapi miskin dalam empati sosial.
Ferdi menambahkan bahwa membangun kembali hubungan sosial membutuhkan upaya sadar. Ia menekankan perlunya ruang kolaboratif, baik dalam bentuk kegiatan komunitas, forum diskusi, maupun platform digital yang diarahkan untuk interaksi positif.
“Teknologi harus dijadikan alat untuk memperkuat jejaring sosial, bukan sebaliknya. Tanpa kesadaran itu, kita akan semakin terjebak dalam dunia yang individualis dan rapuh secara sosial,” tegasnya.
Baca juga: Benarkah Mahasiswa Gen Z Lebih Sadar Perubahan Iklim?
Berangkat dari berbagai temuan dan refleksi tersebut, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat ikatan sosial di era modern. Pertama, menciptakan kembali ruang interaksi tatap muka yang hangat melalui kegiatan komunitas lokal.
Kedua, menggunakan teknologi secara bijak sebagai sarana memperluas jejaring, bukan menggantikan pertemuan nyata. Ketiga, memperkuat pendidikan karakter dengan menanamkan nilai empati, kerja sama, dan tanggung jawab sosial sejak dini.
Lebih jauh lagi, menjaga budaya lokal seperti gotong royong dan musyawarah perlu terus dihidupkan. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kearifan yang relevan untuk mengatasi dampak negatif individualisme modern. Pada akhirnya, tantangan membangun hubungan sosial di tengah arus individualisme modern bukanlah perkara mudah.
Tetapi jika ada kesadaran kolektif, ditopang oleh upaya nyata dari individu hingga institusi, maka ikatan sosial dapat kembali diperkuat. Seperti yang ditekankan Ferdi Fernando Putra, hubungan sosial adalah kebutuhan dasar manusia. Tanpanya, modernisasi hanya akan meninggalkan generasi yang kesepian di tengah keramaian.

Profile:
Ferdi Fernando Putra
Instagram: @ferdifernandop
Mahasiswa politeknik negeri Banyuwangi
Organisasi yang diikuti: Anggota Himpunan Mahasiswa Islam cabang Banyuwangi. Ketua divisi komunikasi dan informasi HIPMI PT BANYUWANGI. Staf kepemudaan Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se Indonesia (FKMPI).